Pemuda yang memiliki keistimewaan memiliki kemampuan membaca masa lalu sering menjadi sebuah cerita yang menarik untuk diikuti. Apalagi ketika kemampuan itu digunakan untuk memecahkan kasus kriminal. Hal inilah yang menjadi latar belakang kisah dalam sebuah drama Korea yang berjudul “He Is Psychometric.”
Dalam drama ini, pemuda bernama Lee Ahn (diperankan oleh Park Jin-young) memiliki kemampuan membaca saat-saat terakhir dari seseorang melalui sentuhan. Kemampuan ini awalnya hanya digunakan olehnya dan sahabatnya, yaitu detektif Yoon Jae-in (diperankan oleh Shin Ye-eun), untuk memecahkan kasus-kasus kriminal yang terjadi di sekitar mereka.
Namun, semuanya berubah ketika mereka bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Oh Sae-yi (diperankan oleh Kim Da-som), yang menarik perhatian mereka karena kesamaan kemampuannya dengan Lee Ahn.
Ternyata, Oh Sae-yi juga memiliki kemampuan membaca memori orang lain melalui sentuhan. Namun, kemampuannya jauh lebih kuat dari Lee Ahn. Di sinilah awal mula terungkapnya kisah kelam yang menyangkut masa lalu Oh Sae-yi, dan bagaimana Lee Ahn dan Yoon Jae-in membantunya mengungkap rahasia tersebut.
Secara keseluruhan, cerita dalam “He Is Psychometric” dianggap sangat menarik dan mendebarkan. Dalam setiap episode, penonton akan disuguhkan dengan plot yang rumit dan menjebak, sehingga membuat mereka penasaran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Selain itu, chemistry antara para pemain juga patut diacungi jempol. Park Jin-young, Shin Ye-eun, dan Kim Da-som berhasil membawa karakter-karakter mereka dengan sangat baik, sehingga membuat penonton ikut merasakan emosi yang mereka alami.
Namun, di balik semua kelebihan tersebut, “He Is Psychometric” juga memiliki beberapa kekurangan. Beberapa penonton merasa bahwa drama ini terkadang terlalu lebay dan klise, terutama dalam penggunaan musik latar yang seringkali terlalu dramatis.
Namun, pada akhirnya, semua itu tetap tidak bisa mengurangi kesan positif dari drama ini. “He Is Psychometric” memiliki alur yang bagus, pemain yang berbakat, dan di atas semuanya, sebuah cerita yang menghibur dan mendebarkan. Sehingga, tidak mengherankan jika drama ini berhasil mendapat rating tinggi dan banyak penggemar setia.
Bagi para penggemar drama Korea yang menyukai cerita misteri dan kejahatan, “He Is Psychometric” adalah salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan. Melalui kemampuan membaca sentuhan yang dimiliki oleh para tokohnya, penonton akan dibawa ke dalam dunia kejahatan yang penuh misteri dan intrik.
Tidak hanya itu, cerita cinta yang dipertontonkan dalam drama ini pun cukup menghibur. Meskipun pada awalnya terlihat klise dan prediksi, namun pada akhirnya berhasil membawa pesan moral yang patut dipertimbangkan.
Namun, bagi penonton yang tidak suka dengan drama yang terlalu lebay dan klise, “He Is Psychometric” mungkin bukan pilihan yang tepat. Karena sebagaimana dijelaskan sebelumnya, drama ini memang terkadang terlihat terlalu dramatis dalam hal penggunaan musik latar.
Namun, penggunaan musik latar yang dramatis pun memiliki kelebihannya tersendiri. Dalam beberapa adegan yang menegangkan, musik latar yang dramatis bisa membuat penonton ikut merasakan ketegangan yang dirasakan oleh para tokoh dalam cerita.
Terkait dengan segi teknis produksi, “He Is Psychometric” juga cukup mengesankan. Seperti biasa dalam drama Korea, lokasi syuting yang dipilih sangatlah indah dan menawan. Ditambah lagi dengan pengambilan gambar yang baik, sehingga membuat drama ini terlihat lebih hidup.
Semua itu tidak bisa terwujud tanpa dukungan dari para kru produksi yang handal. Dari sutradara hingga penulis skenario, semuanya berhasil menghasilkan sebuah drama yang keren dan menghibur.
Dalam salah satu adegan di “He Is Psychometric,” Lee Ahn mengatakan bahwa kemampuannya membaca sentuhan adalah “hukuman dari Tuhan.” Namun, seiring berjalannya cerita, semua itu berubah menjadi sebuah anugerah yang dia terima dari Tuhan.
Hal ini dapat kita lihat dari peran Lee Ahn dalam memecahkan kasus-kasus kriminal yang terjadi di sekitarnya. Tanpa kemampuannya tersebut, kejahatan-kejahatan tersebut mungkin sulit untuk terungkap.
Kisah Lee Ahn, Yoon Jae-in, dan Oh Sae-yi dalam “He Is Psychometric” pun seperti itu. Meskipun pada awalnya ketiga karakter tersebut memiliki kekurangan dan luka yang dalam, namun pada akhirnya mereka berhasil mempertemukan satu sama lain, dan berjuang bersama mengungkap masa lalu Oh Sae-yi.
Dalam hal ini, “He Is Psychometric” memberikan pesan moral yang cukup menarik. Bahwa, meskipun kita mungkin memiliki kekurangan dan masa lalu yang menyakitkan, namun hal itu tidak menyebabkan kita tidak bisa berjuang dan memperjuangkan keadilan.
Kita perlu menerima diri sendiri, dan berusaha menjadi orang yang lebih baik. Seperti kata-kata mutiara yang dituturkan oleh Lee Ahn, “Kita semua membutuhkan tangan untuk memegang kita, jangan merasa malu untuk meminta bantuan.”
Dalam kesimpulan, “He Is Psychometric” adalah sebuah drama Korea yang cukup menarik untuk ditonton. Melalui cerita yang dibawakan dengan apik, penonton akan dibawa ke dalam dunia kejahatan dan misteri yang penuh intrik.
Drama ini juga berhasil membawa pesan moral yang baik, tentang pentingnya menerima diri sendiri dan memperjuangkan keadilan. Meskipun memiliki beberapa kekurangan, seperti penggunaan musik latar yang terlalu dramatis, namun hal itu tetap tidak bisa merusak karya yang indah yang dihasilkan oleh para pemain dan kru produksi.


